Di Hadapan Mahasiswa, Gogot : Golput Itu Gak Keren, Itu Tandanya Malas

Di Hadapan Mahasiswa, Gogot : Golput Itu Gak Keren, Itu Tandanya Malas
Foto : Komisioner Divisi Sosdiklih dan Parmas KPU Provinsi Jawa Timur, Gogot Cahyo Baskoro saat sosialisasi di KPU Goes to Campuss IAIN Kediri, Selasa (24/11/2020). 

Reporter : Linda Estri Liyanawati

Kediri,  kpu-kedirikab.go.id – “Golput itu tidak keren, itu tandanya malas”, demikian disampaikan Komisioner  KPU Provinsi Jawa Timur dalam acara Seminar dan Sosialisasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (PILBUP) Kediri Tahun 2020, KPU Goes to Campuss di IAIN Kediri, Selasa (24/11/2020). 

“Bila kemudian ada isitilah golput itu keren? Itu bohong. Padahal itu tandanya males, bagi mahasiswa apanya yang keren. Katanya hidup itu pilihan, namun saat diminta memilih malah tidak memilih,” ujar Gogot Cahyo Baskoro,  Komisioner  KPU Provinsi Jawa Timur, Selasa (24/11/2020).

Dalam seminar tersebut Komisioner yang membidangi Divisi Sosdiklih dan Parmas KPU Provinsi Jawa Timur tersebut juga mengajak mahasiswa yang hadir untuk terlibat dalam penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (PILBUP) Kediri Tahun 202.

“Peran mahasiswa dalam Pemilihan, mahasiswa bisa terlibat dalam penyelenggaraan pemilihan dengan cara mengawasi setiap tahapan pemilihan, membantu sosialisasi pemilihan serta membantu pendidikan politik bagi pemilih,” ungkapnya.

Gogot juga menjelaskan bahwa Pemilihan Serentak yang digelar pada 9 Desember 2020, yang masih dalam situasi pendemi tersebut mempunyai nilai positif. Pemilihan ini menjadi tantangan dan pembuktian bagi penyelenggara untuk menjaga integritas penyelenggaraan dan meningkatkan angka partisipasi masyarakat. 

“Perlu menjadi catatan, kepastian jalannya sistem pemerintahan, tidak ada yang bisa memastikan pandemi akan berakhir ini kemudian mendorong kepedulian dan kepekaan sosial, kesadaran masyarakat yang penuh empati dan bergotong royong,” terangnya.

Namun, bila kemudian muncul money politic, kata Gogot, ia berharap agar harga diri dan idealisme mahasiswa tidak tertukar dengan rupiah. 

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga sepatu dan semuanya tergantung keputusan politik. Orang yang buta politik, begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik,” kutipan ucapan Gogot bersumber penyair Jerman, Bertolt Brecht. (hupmas/ lyn)