Ingatkan Pentingnya Perlindungan Ruang Siber Sebagai Bentuk Menjaga Kedaulatan Indonesia, BSSN dan CISA: Ancaman Semakin Kompleks!

Ingatkan Pentingnya Perlindungan Ruang Siber Sebagai Bentuk Menjaga Kedaulatan Indonesia, BSSN dan CISA: Ancaman Semakin Kompleks!
Indonesia’s Digital Transformation and Cybersecurity in the Construction Sector. Selasa (24/08)

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Di era pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini, sebuah bentuk entitas dan ruang baru bermunculan dari dunia maya yang kemudian akrab disebut ruang siber. Di dalam ruang siber berbagai aspek tercakup di wilayahnya, tak hanya unsur ekonomi saja, bahkan unsur pemerintahan termasuk didalamnya pertahanan dan keamanan pun harus dilindungi. 

Tingginya tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, membuat ancaman yang mengikutinya pun menjadi berbanding lurus, melihat perkembangannya di tanah air saat ini yang begitu pesat. Menurut data dari BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara, red) terdapat serangan siber dari bulan januari hingga juli 2021 sebanyak 741 juta. Serangan ini meliputi malware yang paling mendominasi kemudian disusul aktivitas trojan.

Kepala BSSN, Hinsa Siburian saat menjadi keynote speaker dalam acara Indonesia’s Digital Transformation and Cybersecurity in the Construction Sector pada Selasa (24/08) menyampaikan keamanan siber harus dijaga karena adanya interdependensi atau saling ketergantungan antara berbagai sektor. Hinsa juga mengatakan bahwa sektor pemerintahan adalah yang paling rawan mengalami serangan siber sebanyak 45,5 persen, kemudian sektor keuangan 21,8 persen, telekomunikasi 10,4 persen, penegakan hukum 10,1 persen, transportasi 10,1 dan sektor lainnya 2,1 persen.

“Badan siber sandi negara sebagai yang bertugas mengamankan ruang siber, tidak memiliki pasukan seperti TNI namun kita membangun computer security incident response team di masing-masing lembaga adalah pasukan yang kita bangun dan terus akan kita bangun seiring dengan pembangunan infrastruktur teknologi informasi.” Kata Hinsa.

Hal senada diungkapkan pula oleh Alaina Clark, Asisten Direktur untuk Hubungan Stakeholder dari CISA ( Cybersecurity and Infrastructure Security Agency ) sebagai perwakilan dari Pemerintah Amerika Serikat yang juga menjadi keynote speaker dalam acara tersebut. Alaina mengatakan bahwa ancaman di dunia siber semakin kompleks sehingga butuh kolaborasi dengan mitra internasional, karena serangan tersebut tidak mengenal batas negara, mengingat dunia saat ini semakin terdigitalisasi dan volume penggunaan data juga meningkat pesat. Hal ini berimbas pada penyerangan terhadap jutaan situs web yang dapat merugikan miliaran dollar.

“Infrastruktur vital seperti air dan tenaga listrik selalu menjadi target oleh kelompok penjahat siber. Setiap hari para pelaku ancaman membuat data sebagai senjata untuk menyerang kerahasiaan informasi dan privasi kita. Dan inilah momen yang tepat untuk berkolaborasi seluruh sektor dan mitra internasional” Kata Alaina. (Bint)