Peran Spiritualitas Diri sebagai Dasar Kode Etik Menyelenggarakan Pemilu

Peran Spiritualitas Diri sebagai Dasar Kode Etik Menyelenggarakan Pemilu

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Selasa (9/11/2021) via kanal youtube Bawaslu Jabar, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri mengikuti bedah buku Spiritualitas Penegakan Kode Etik Penyelenggara Pemilu karya Arif Ma’ruf Suha.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menghadirkan narasumber Dr. Nur Hidayat Sardini, S. Sos, M. Si dan Abdullah, S.TP. Sambutan disampaikan oleh Zaki Hilmi. Tidak terlewatkan turut hadir penulis buku spiritualitas ini Arif Ma’ruf Suha.

Narasumber pertama Ketua Bawaslu Jabar Abdullah menyampaikan bahwa penyelenggara pemilu memiliki peran besar dalam menentukan hasil pemilu yang legitimate atau delegitimate. Penyelenggara pemilu yang buruk, maka sebaik apapun regulasi tidak akan pernah ditegakkan dan masyarakat tidak akan percaya dengan hasil pemilu karena curiga dicurangi. 

“Sebaliknya, jika penyelenggara pemilu baik maka kendala regulasi bisa diantisipasi dengan pendekatan progresif serta masyarakat akan percaya bahwa tindakan penyelenggara jujur, adil, dan sesuai kode etik”.  jelas Abdullah.

Arif Ma’ruf sebagai penulis buku mengungkapkan bahwa kode etik dan kode perilaku pemilu sudah diatur dalam PERDKPP No. 2 tahun 2017 yang mana terdiri dari dua aspek yaitu normatif dan spiritualistik. Dari aspek tersebut berimplikasi pada suatu prinsip integritas dan profesionalitas dalam penyelenggara pemilu.

“Dasar dari aspek spiritualitas tertuang dalam sumpah jabatan” jelas Arif. Spiritualitas sebagai proses pencapaian makna, tujuan, moralitas, dan kesejahteraan baik dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, maupun dalam masyarakat. Tujuan spiritualitas sendiri adalah untuk mencapai kebahagiaan.

Selanjutnya Nur Hidayat Sardini sebagai narasumber memberikan komentar bahwa buku ini mempertegas kode etik penyelenggara pemilu merupakan bagian dari etika yang mana penegakannya tidak hanya datang dari luar tapi juga dari dalam (hati nurani) atau dalam istilahnya bisa disebut imposed from within. Spiritual merupakan ekspresi dari apa yang manusia anggap sebagai realitas batin. Spiritualitas dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, perasaan, dan naluriah manusia, dengan ini maka nilai besar pada spirit dapat diimplementasikan. “Kode etik itu berangkat dari dalam diri kita, walau 1000 kali diawasi kalau hati kita tidak berangkat tidak akan bisa” tegas Nur Hidayat.